Headlines News :
Home » » STRATEGI DAN TAKTIK DALAM PERJUANGAN POLITIK

STRATEGI DAN TAKTIK DALAM PERJUANGAN POLITIK

Written By Arkin kisaran on Senin, 28 Januari 2013 | 00.18



STRATEGI DAN TAKTIK DALAM PERJUANGAN POLITIK

Perang dan Politik
Politic is war without blood sheeds and war is politics with blood sheeds
Perang dan politik pada hakikatnya sama yaitu sebagai alat untuk mencapai maksud Cuma bentuk yang berbeda.
Perang dengan kekerasan, politik tanpa kekerasan.
Perang dengan ilmu perang. Ilmu perang adalah ilmu tentang strategi dan taktik dalam perang.berjuang haruslah dengan ilmu berjuang.
Dan perjuangan politik adalah ilmu tentang strategi dan taktik dalam perjuangan politik.

HUKUM STRATAK DALAM PERJUANGAN POLITIK
Hadits: Ilmu tanpa amal adalah dosa, demikian pula amal tanpa ilmu dosa
Keduanya harus disertai dengan ilmu stratak.

Apa pekerjaan hanya dapat sempurna (dicapai) dengan sesuatu maka sesuatu itu wajib.
Perjuangan idelogi tidak hanya cukup memahami ideology dan menyusun organisasi, melainkan harus disertai dengan stratak.
Perjuangan ideology tidak hanya cukup memahami ideology dan menyusun organisasi, melainkan harus disertai dengan stratak. Perjuangan ideology hanya dapat selesai sempurna dan berhasil dengan disertai dengan stratak, karena itu memahami dan menerapkan stratak dalam perjuangan ideology (politik) hukumnya wajib.
Ada pepatah yang bunyinya :


Kebathilan dengan pedoman akan mengalahkan kebenaran yang tidak berpedoman, sebaliknya kebenaran yang disertai dengan statak akan mengalahkan kebatthilan walaupun yang juga berstratak.

STRATAK DALAM POLITIK
Taktik : bagaimana menentukan sikap atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa politik tertentu pada saat tertentu.
Strategi: bagaimana menggunakan peristiwa-peristiwa politik dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai rencana perjuangan.
Dalam politik tidak dapat dibayangkan kapan ideology akan terlaksana. Karena strategi dalam politik tidak dapat meliputi sampai tercapainya tujuan (ideology) karena hanya meliputi jangka waktu tertentu.

HUBUNGAN TAKTIK DENGAN STRATEGI
Taktik adalah bagian dari strategi
Taktik karenanya harus tunduk dan mengabdi kepada strategi, rencana perjuangan (strategi) meliputi perjuangan secara menyeluruh baik dalam hubungan nasional, internasional, dan daerah/local maupun mengenai semua segi kehidupan masyarakat/ Negara, ekonomi, hamkam, pendidikan, agama dan lain-lain.
Karena itu setiap ativis/ fungsionaris/ kader organisasi, meskipun ia hanya mempunyai tanggung jawab mengenai satu aspek perjuangan misalnya pendidikan atau mengenai satu daerah (wilayah), namun ia mestinya memahami perjuangan dan rencana strategi dalam keselamatannya.
Jika semua langkah-langkah taktik dalam seluruh strategi berhasil, pastilah srateginya berhasil. Jika semua langkah-langkah taktik dalam strategi gagal, maka pastilah stateginya sendiri gagal.
Jika seluruh langkah-langkah strategi gagal, strategi masih dapat berhasiil jika kemudian disusul dengan langkah-langkah taktik yang berhasil serta yang bernilai strategis.
Jika sebagian langkah-langkah taktik berhasil, strategi masih bisa gagal. Jika kemudian terjadi kegagalan langkah-langkah taktik yang bernilai strategis, langkah-langkah taktik yang bernilai strategis ialah yang mengenai suatu kejadian politik. Tapi kejadian itu menentukan bagi seluruh rencana strategis.

BERPIKIR – BERJUANG – BEKERJA  SECARA LIMA DIMENSI
Mula-mula kita berideologi yang merupakan tujuan perjuangan, lalu kekuatan disusun dalam organisasi, organisasi bergerak dalam arena politik, karenanya harus selalu diikuti perkembangan politik. Karena politik mempunyai hokum-hukum tersendiri, maka cara berpikir harus politis, tidak normative dan yuridis formal.
Setelah secara berpikir politis kita menanggapi setiap persoalan politik, maka disusunalah garis strategi untuk jangka waktu tertentu dan ditentukanlah langkah-langkah taktik untuk setiap persoalan politik tertentu pada saat tertentu. Dus dalam perjuangan kita harus berpikir lima dimensional yaitu : Ideologis, Organisatoris, Politis, Strategis, dan Taktis, dan kita harus berjuang dan bekerja secara lima dimensi itu. Lima dimensi itu merupakan kebulatan yang harus dimiliki oleh lapisan pimpinan dan para kader tingkat atas. Tanpa kebulatan lima dimensional itu perjuangan akan mengalami kegagalan-kegagalan.
Berpolitik tanpa Ideologi adalah opportunisme
Berpolitik tanpa Organisasi adalam Ovonturisme
Berpolitik tanpa Stratak adalah ngawur dan nekat
Opportunisme, Ovonturisme, dan sikap ngawur-Nekat adalah sikap-sikap yang berbahaya bagi kepentingan perjuangan

UNTUK SIAPA STRATAK INI ?
Stratak ini hanyalah boleh dipelajari pejuang tulen serta yang mempunyai kesadaran ideology dan organisasi serta sanggup berpikir politis.
Seseorang penakut yang selalu menghindari resiko, yang kepentingan pribadinya selalu dimenangkan atas kepentingan perjuangan, tidak usah mempelajari stratak ini, karena nanti ia akan menutupi opportunismenya (petualangannya) atau sifat penakutnya dengan dalih-dalih stratak.
Yang sudah berkesadaran ideology atau organisasi, justru harus mempelajari stratak ini agar ia tidak jatuh pada penyakit anarchy, nyelonong atau pada sikap radikalisme ekstreem yang bersikap ngawur dan nekat.
Setiap penakut adalah jelek, karena sikap penakut tidak akan pernah dan tidak akan mugkin membawa hasil. Sikap berani yang jelek adalah yang membawa bencana bagi perjuangan dan yang menyebabkan kekuatan sendiri berantakan dan musnah atau berkurang.

KEDUDUKAN STRATAK DALAM PERJUANGAN IDEOLOGI
Stratak tidaklah hanya berdiri sendiri, melainkan hanya merupakan sebagai alat pelaksana untuk mencapai tujuan ideology. Karenanya stratak haruslah mengabdi kepada perjuangan untuk mencapai tujuan ideology serta harus tunduk pula pada ketentuan-ketentuan ideology.
Prinsip the end justices the means berlaku bagi perjuangan ideology jika mau berhasil. Cuma bagi ideology yang berdasarkan agama. Sudah barang tentu penerapan prinsip ini haruslah dibatasi sepanjang tidak melanggar ketentuan-ketentan hokum/agama.
Adanya pembatasan ini sepintas lalu merupakan kelemahan dalam perjuangan ideology yang berdasarkan agama jika dibandingkan dengan ideology yang tidak berdasarkan agama atau moral seakan-akan yang terakhir ini seluas-luasnya dapat mempergunakan segala cara apapun untuk mencapai tujuan, tapi justru tidak adanya pembatasan itu malahan merupakan peluang bebas untuk setiap petualangan dan penyelewengan oleh oknum yang berkuasa dalam bentuk gila kuasa, sewenang-wenang, ambisi-ambisi pribadi dan lain-lain tentu saja dengan kedok bagi kepentingan organisasi.
Dan akibat dari petualangan penyelewengan malahan merupakan perjuangan ideology yang tidak berdasarkan agama atau moral itu. Apa yang dalam agama ada hukumnya haram, halal, sunnah, makruh, tidak boleh dipersoalkan lagi dari sudut stratak, selebihnya adalah yang termasuk urusan dunia yang oleh nabi diserahkan kepada kita.

Kamu lebih tahu mengenai soal-soal keduniaan
Dalam soal-soal ini kita menggunakan pertimbangan-pertimbangan stratak.

HUBUNGAN STRATAK DENGAN ORGANISASI
Stratak adalah cara menggunakan organisasi untuk mencapai sasaran perjuangan. Ini berarti setiap garis strategi atau langkah taktik haruslah disesuaikan dengan kondisi organisasi. Setiap garis organisasi atau langkah taktik yang berada diluar kemampuan organisasi akan gagal.
Setiap stratak akan berhasil jika sesuai dengan kemampuan (daya kekuatan) organisasi tentu saja disertai dengan organisasi yang rapi.
Organisasi yang mempuyai leadership dan disiplin akan membawa stratak yang tepat pada sukses. Sukses stratak akan memperkuat organisasi, makin tambah kuat organisasi makin tambah mampu melaksanakan stratak yang lebih besar dan demikian selanjutnya stratak yang lebih besar, yang lebih berhasil akan lebih memperkuat organisasi.
Selanjutnya, stratak yang gagal akan mengurangi kekuatan organisasi, makin berkurang kekuatan organisasi, maka makin tidak mampu melaksanakan stratak yang lebih besar dan makin kecil tingkat stratak yang harus dilaksanakan akan makin jauhlah organisasi kepada tujuan (ideology)

STRATAK DAN LEADERSHIP
Jika ideology sudah cukup jelas, dan organisasi pun telah tersusun, maka sukses selanjutnya tergantung pada pelaksana stratak yang tepat.
Ideology adalah factor yang konstan (tetap). Organisasi adalah factor yang gegiven artinya yang diadakan, yang akan menjadi berkurang dan bertambah (variable) dengan gagal dan berkurangnya stratak.
Pada fase-fase pertama dari perjuangan, tugas dari leadership adalah menyeluruh, meliputi ketiga factor: Ideologi, organisasi, dan stratak. Pada fase-fase selanjutnya setelah soal ideology diselesaikan (relative) dan organisasi telah tersusun, maka tugass leadershsip sehari-hari adalah melaksanakan strategi dan menerapkan taktik agar organisasi makin kuat sehingga tujuan ideology dapat tercapai. Meskipun leadership yang baik harus meliputi ketiga factor ideology, organisasi dan stratak. Namun akhir yang paling menentukan hasilnya adalah strataknya, sehingga dapat dikatakan bahwa soal leadership adalah soal penggarisan strategi yang benar dan penerapan taktik yang tepat.
Bagitu vitalnya stratak itu, sehingga ada yang mengatakan bahwa strategy and tactics are science of leadership. Leadership yang tidak menguasal soal-soal ideology sudah barang tentu bukanlah suatu leadership yang baik betapapun hebatnya stratak yang dilaksanakannya, karena dengan tidak dikuasainya ideology, dengan stratak yang hebat itu lalu kemana tujuannya, padahal hanyalah dilandaskan kepada azas-azas ideology.
Sebaliknya leadership yang sikapnya kelihatan hebat, berani, tegas, tetapi sikap tegasnya itu tidak disertai dengan penggarisan stratak yang tepat untuk terlaksananya sikap tegas tadi, lalu dengan sikap tegas yang hebat tapi tidak realistis itu dengan kekuatan organisasi yang lumpuh, lalu berantakan, betapapun benarnya sikap tegas itu tetapi leadership adalah leadership yang gagal.
Mengambil sikap adalah tidak sukar, yang sukar adalah merealisasikannya.
Leadership yang cuma benar dalam sikap tapi tidak benar dalam realisasinya adalah leadership yang gagal, realisasi yang benar dari suatu sikap adalah jika dengan realisasi itu kekuatan sendiri dapat dipertahankan/ ditambah serta kekuatan lawan dapat dikurangi atau dihancurkan. Sikap tegas demi untuk tegasnya saja tidak menguntungkan perjuangan bahkan dapat merugikan, sesuati sikap diambil apa tegas, apa setengah tegas, atau tidak tegas, sepanjang tidak melanggar ketentuan agama, adalah demi untuk memelihara kekuatan sendiri serta untuk mengurangi kekuatan lawan dan ini hanya dapat dilaksanakan dengan penggarisan strategi yang benar dan penerapan stratak yang tepat.
Sudah menggariskan stratak saja masih mungkin gagal, apalagi kalau tidak mempunyai stratak sama sekali, dus leadership yang tidak menguasai soal-soal stratak serta tidak menerapkan pastilah gagal.

TUGAS STRATEGI DAN TAKTIK
Sebagai cara mempergunakan organisasi untuk mencapai rencana perjuangan dalam jangka tertentu, serta sebagai cara berjuang memerlukan sikap pada saat tertentu menghadapi masalah politik tertentu, maka tugas stratak adalah menciptakan, memelihara, dan menambah syarat-syarat yang membawa pada tujuan.
Syarat-syarat yang meliputi kekuatan fisik berupa tenaga manusia, kekuatan materiil, kekuatan mental (ideology) serta di dalam Negara dan masyarakat.
Tegasnya tugas stratak adalah untuk machts-vorming dan matchs-anwending.
Matchs            = power           = kekuatan
Kracht             = force             = kekuatan
Power              = force             = position
Matchs                        = krachr           = position
Kekuasaan       = kekuatan      = posisi
Position without force             = naked position
Force without position            = naked force
Posisi tanpa kekuatan              = posisi mental
Kekuatan tanpa posisi             = kekuatan mental
Position + force without ideology       = naked power
Posisi tidak dapat dipisahkan dengan kekuatan : posisi yang baik = separuh kekuatan
Posisi strategis adalah menentukan berhasil tidaknya rencana perjuangan (strategis)
Posisi taktis menentukan berhasil tidaknya langkah-langkah taktik
machts-vorming dan matchs-anwending yang menjadi tugas stratak tidak lain tujuannya melainkan untuk melaksanakan apa yang disebut Mao Tse Zu “….. to prever or self and to annihilate the enemy” atau dapat dirumuskan bahwa tugas stratak :
untuk mempertahankan/ menambah kekuatan dan/atau posisi sendiri/ serta menghancurkan/ mengurangi kekuatan/ atau posisi lawan.
Baik buruknya suatu stratak adalah ditentukan berhasil tidaknya mempertahankan kekuatan sendiri atau mengurangi kekuatan lawan.
Demikian pula baik buruknya leadership tidak terletak pada tegas tidanya, berani atau tidak, popular atau tidak, melainkan pada hasil kepemimpinannya dan hasil dalam kepemimpinannya adalah apa saja yang dapat mempertahankan kekuatan/ posisi sendiri serta yang dapat mengurangi kekuatan/ posisi lawan.

DASAR-DASAR MENYUSUN STRATAK
Rencana perjuangan yang merupakan unsure pokok dari strategi (lihat definisi strategi) adalah menetapkan sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi dalam waktu tertentu. Besar kecilnya sasaran yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu disesuaikan dengan kemampuan organisasi.
Jangka waktu tertentu merupakan juga unsure dalam pengertian strategi, jangka waktu ini ditetapkan antara waktu sekarang dan beberapa tahun kedepan. Misalnya sampai selesainya pemilihan umum, dalam jangka waktu ini biasanya strategi tidak berubah dan merupakan satu tahap dalam perjuangan stasling it (strategy) changes with the passing of devolutionfrom one stage to another but remains essentially anchanged thought without a given stage
Politik adalah multi partai affair
( Hidell hart…… war is a two party). Setiap pihak partai mempunyai rencana masing-masing. Rencana strategi biasanya tidak dirahasiakan karena dalam pelaksanaannya memerlukan penerangan/ indoktrinasi kepada aktivis  atau kader-kadernya secara terbuka untuk mencari pengikut, partai yang satu biasanya lain pula rencana strategi dari partai lainnya, lalu berusaha untuk menggagalkan. Karena itu setiap rencana haruslah mempunyai sasaran alternative.
Sasaran yang hendak dicapai dengan rencana stategis adalah selalu dalam rangka match-vorming. Jika sesuatu sikap-sikap ditujukan keluar, masyarakat atau pihak pemerintah, hal ini semata-mata untuk mendapatkan backing dari public opinion atau untuk mendapatkan adesi atau assosiasi kepada satu pihak.
Setiap resolusi atau sikap itu tidaklah berdiri sendiri dan bukan pula demi untuk kepentingan apa yang tercantum dalam resolusi itu sendiri, melainkan haruslah dikaitkan kepada usaha untuk match vorming itu.
Setiap rencana adalah subyektif untuk kepentingan organisasi sendiri, tapi dengan mempergunakan hal-hal yang obyektif atau yang dibuat seakan-akan obyektif sehingga dapat diterima dan kemudian disokong oleh public opinion.
Public opinion ada dua macam :
Pertama, yang murni : yang timbul oleh kebesaran tindakan-tindakan (misalnya tindakan ekonomi), yang benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat.
Kedua, yang tidak murni : yang tidak digarap oleh/ atas dengan berbagai cara, diantaranya dengan :
-          Managed News
-          Kampanye urat saraf
-          Penggarapan khusus lewat tekanan psikis, material atau fisik terhadap oknum-oknum tokoh

DASAR-DASAR MEMBENTUK TAKTIK
Taktik adalah menentukan langkah atau suatu sikap pada saat tertentu, menghadapi peristiwa politik tertentu.
Orientation, evaluation and estimation
Sebelum menentukan sikap/ langkah taktis, harus melihat keadaan secara tepat, kemudian menilai keadaan itu dihubungkan dengan keadaan kita dan kehendak lawan dan sesudahnya lalu menentukan langkah dan mengira-ngira bagaimana hasilnya nanti.
Hasil dapat dipastikan, tapi dengan orientasi dan evaluasi yang tepat akan terbayang atau tidaknya. Setelah sasaran taktis ditetapkan sekaligus ditetapkan sasaran alternatifnya atau bahasa populernya kita tetapkan program minimum. Antara maksimum dan minimum terdapat alternative-alternatif, segala factor harus diperhitungkan yaitu : factor kita, factor lawan, dan factor keadaan atau situasi.
Kerahasiaan
Biar lawan meraba-raba apa langkah yang kita ambil agar mereka tidak dapat mengahalang-halangi: keep the quieting
Gerak tipu
Hadits :
Sun Tzu : all war fare is based on deception
Jackson : Mistify, mislead and surprise
Lima S
-          Sasaran
-          Sandaran
-          Sarana
-          Sistem
-          Saat
Perpaduan kondisi subyektif dan kondisi obyektif
Kondisi subyektif adalah mengenai kekuatan dan keadaan organisasi sendiri.
Kondisi obyektif adalah mengenai keadaan, situasi dan iklim politik
Kondisi subyektif baik tapi kondisi obyektif tidak baik, taktik tidak akan berhasil
Sebaliknya, walaupun kondisi obyektif baik, tapi keadaan subyektif tidak baik (misalnya sedang lumpuh atau berantakan) taktik juga tidak akan berhasil.
Kondisi subyektif yang belum baik dapat dibikin baik dengan jalan apa yang disebut memantapkan situasi. Dus kondisi obyektif dapat diciptakan dan dibikin oleh subyek (pihak yang kondisinya baik) disini kondisi subyektif mematangkan kondisi obyektif. Sebaliknya kondisi obyektif dapat membuat kondisi subyektif yang tadinya kurang baik menjadi baik dalam arti bahwa dengan timbulnya kondisi obyektif yang mendadak menjadi matang, maka apa yang tadinya belum dapat dilaksanakan, dus disini kondisi obyektif mematangkan kondisi subyektif.
Jadi kondisi subyektif dan kondisi obyektif masing-masing tidak berdiri sendiri melainkan antara keduanya terdapat hubungan timbal balik yang aktif saling pengaruh-mempengaruhi.

SYARAT-SYARAT TEKHNIS UNTUK TERLAKSANANYA STRATAK
Teknis disini dalam arti cakap, ahli, mahir
Perjuangan politik meliputi semua segi penghidupan dan kehidupan, Negara dan masyarakat yang setiap seginya adalah penting dan mempunyai hubungan timbal balik aktif dengan segi-segi lainnya dan karenanya semua segi itu mesti sama-sama digarap tidak ada satupun yang dianak tirikan. Untuk itu dibutuhkan kecakapan dan keahlian dalam semua bidang dan karenanya perlu ada spesialisasi bagi semua aktivis sesuai kecakapan dan minatnya. Untuk menggarap soal perburuhan misalnya diperlukan aktivis yang selain tahu soal perburuhan juga yang sanggup bergerak di tengah-tengah kaum buruh.
Untuk mengetahui rahasia lawan diperlukan usaha infiltrasi, untuk ini juga diperlukan tenaga khusus untuk itu, baik yang diselundupkan maupun yang dikoordinasikan. Untuk memegang inisiatif dalam percaturan politik diperlukan tenaga-tenaga ahli/ sarjana yang setiap saat dapat menyampaikan working-paper kepada pimpinan mengenai issue-issue yang perlu dilontarkan lewat berbagai forum (DPR, Pers dll) untuk mendapatkan backing dari opini umum.
Untuk keperluan massa aksi diperlukan tukang-tukang pidato yang tahu massa psychology disamping keharusan adanya garis vertical organisasi sampai kelompok-kelompok anggota yang terkecil untuk keperluan menggerakkan massa. Dalam massa modern ini soal kecakapan teknis ini tidak boleh diabaikan, lagi pula rakyat yang perutnya lapar sukar untuk digerakkan dengan ideology-ideology dan politik-politik saja. Program social ekonomis yang kongkrit dan real akan lebih menarik perhatian rakyat. Dalam keadaan yang begini politik yang baik adalah melainkan berprogram social ekonomi dan memperjuangkannya.

HUKUM-HUKUM STRATAK
Di dalam stratak terdapat semacam hokum atau maxim yang sifatnya universal artinya berlaku dimana-mana, tentu saja bentuk-bentuk penerapannya berbeda-beda menurut tempat dan keadaan. Dalam perjuangan politik maxim-maxim ini diterapkan juga secara benar tentu akan membawa hasil. Jika tidak berhasil bukan maximnya yang salah melainkan penerapannya yang salah.
Beberapa maxim-maxim tersebut akan dipaparkan di bawah ini :
  1. Kualitas
Jumlah yang besar akan mengalahkan jumlah yang kecil.
Pihak yang berjumlah kecil tidak boleh menyerang yang lebih besar
Jika musuh yang berjumlah besar menyerang pihak yang berjumlah kecil, yang kecil hendaklah menyingkir.
Musuh yang berjumlah besar tidak dapat dihancurkan sekaligus, melainkan dari sedikit demi sedikit dan secara terus menerus. Kehancuran dari sedikit demi sedikit itu disebabkan oleh gangguan-gangguan yang selalu dilakukan oleh pihak yang berjumlah kecil pada saat musuh (lawan politik) besar itu lengah
Pihak yang berjumlah kecil dari sedikit demi sedikit dan secara terus menerus dapat menjadi besar dengan jalan mengumpulkan setiap hasil yang diperoleh akibat kesalahan dan kelengahan musuh yang berjumlah besar.

sumber : Materi Lk2 Bogor

Share this post :

+ komentar + 1 komentar

14 Februari 2014 03.43

keren artikelnya gan. mantap.

www.kiostiket.com

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatan Pinggir Mahasiswa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger